Archive for Desember, 2011


Surat Al-Jumah

1. Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. raja, yang Maha suci, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
3. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
4. Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.
5. Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya[1474] adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
6. Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa Sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, Maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”.
7. Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang Telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. dan Allah Maha mengetahui akan orang-orang yang zalim.
8. Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.
9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.
10. Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik pemberi rezki.

[1474] Maksudnya: tidak mengamalkan isinya, antara lain tidak membenarkan kedatangan Muhammad s.a.w.
[1475] Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah azan di hari Jum’at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya.

Fatwa-fatwa seputar puasa 6 hari di bulan syawwal dan puasa sunnah lainnya – September 13, 2010Posted in: Fatwa Fatwa-fatwa lajnah daaimah tentang Puasa Syawwal dan Puasa Sunnah lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ, ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (Diriwayatkan oleh Jama’ah ahli hadits selain Bukhari dan Nasa’i) Hadits ini menunjukkan dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawwal. Pendapat inilah yang dipegang oleh Imam Ahmad, Imam Syafi’i dan lainnya. Namun Imam Malik mengatakan makruh, menurut Ibnu Abdil Bar Imam Malik berpendapat begitu karena belum sampai hadits ini kepadanya. Imam Nawawiy dalam Syarh Muslim berkata, “Sahabat-sahabat kami berkata, “Afdhalnya melakukan puasa enam hari secara berturut-turut setelah Idul Fithri (yakni dimulai pada tanggal 2 Syawwal)”. Kata mereka juga, “Kalaupun tidak berturut-turut atau ditunda tidak di awal-awal bulan Syawwal, tetapi di akhirnya maka ia tetap mendapatkan keutamaan “mengiringi”, karena masih bisa dikatakan “mengiringi dengan enam hari di bulan Syawwal.” Para ulama mengatakan, “Dianggap seperti berpuasa setahun adalah karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan, bulan Ramadhan dihitung sepuluh bulan, sedangkan enam hari di bulan Syawwal dihitung dua bulan.” Ini adalah karunia dari Allah dan kemurahan-Nya, dengan umur kita yang sedikit, namun jika mengerjakan amalan ini, kita dianggap berpuasa selama setahun. Sungguh sangat beruntung orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berpuasa sebelum habis waktunya. Saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala apabila menerima amal seorang hamba, maka Dia akan memberikan taufiq (membantunya) untuk mengerjakan amal shalih lainnya. Beberapa masalah yang berkaitan dengan puasa Syawwal – Para fuqaha (ahli fiqh) berselisih tentang hukum melakukan puasa sunnah sedangkan puasa Ramadhan belum diqadha’nya’ hingga timbul 3 pendapat: Tidak apa-apa melakukan puasa sunnah meskipun belum mengqadha’ puasa Ramadhan. Ini adalah pendapat madzhab Hanafiyyah. Tidak mengapa tetapi makruh, karena sama saja ia menunda yang wajib. Ini pendapat madzhab Maalikiyyah dan Syaafi’iyyah. Haram melakukan puasa sunnah bila puasa Ramadhan belum diqadha’ dan tidak sah puasanya, ia harus mengerjakan puasa wajib lebih dahulu barulah berpuasa sunnah. Ini madzhab Hanabilah. Oleh karena itu, sebaiknya jika kita hendak berpuasa sunnah, hendaknya kita kerjakan dahulu puasa yang wajib yang belum diqadha’, setelah itu baru mengerjakan puasa sunnah. – Di antara ahli ilmu ada yang berpendapat bahwa wanita yang nifas, jika ia tidak berpuasa Ramadhan hampir sebulan penuh, maka ia kerjakan puasa Ramadhan dahulu, baru kemudian mengerjakan puasa Syawwal, meskipun sebagian puasa Syawwal ia kerjakan di bulan Dzulqa’dah, karena habis terisi dengan qadha’ puasa Ramadhan yang dikerjakannya. – Masing-masing ibadah termasuk puasa wajib disertai niat, untuk puasa wajib, niat harus sudah ada sebelum terbit fajar, namun untuk puasa sunnah, niatnya boleh di siang hari. Dan niat ini tempatnya di hati, bukan di lisan. Fatwa Lajnah daa’imah yang berkaitan dengan puasa Syawwal dan puasa sunat lainnya Ketua : Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz Wakil : Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afiifiy Anggota : Syaikh Abdulllah bin Ghudayyan Anggota : Syaikh Abdullah bin Qu’uud Fatwa no. 2264 Pertanyaan: “Apakah orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawwal, namun ia belum menyempurnakan puasa Ramadhannya, misalnya ia tidak berpuasa Ramadhan selama sepuluh hari karena uzur syar’i, apakah ia mendapatkan pahala seperti orang yang menyempurnakan puasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawwal yang pahalanya seperti orang yang berpuasa setahun penuh, berikanlah penjelasan, semoga Allah membalas anda?” Jawab, “Urusan pahala yang dikerjakan hamba itu kembalinya kepada Allah, ini adalah hak khusus bagi Allah ‘Azza wa Jalla, dan seorang hamba apabila berusaha mencari pahala dan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan pahalanya sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang memperbaiki amalnya.” (Al Kahfi: 30) Namun seharusnya bagi orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan, hendaknya mendahulukan (qadha’ puasa Ramadhan), kemudian puasa enam hari di bulan Syawwal, karena hal tersebut tidak termasuk (dikatakan) mengiringi Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, kecuali bila ia menyempurnakan puasa (Ramadhan)nya.” Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam Fatwa no. 10195 Pertanyaan: “Apa hukum orang yang puasa sunat, kemudian di tengah-tengah puasanya ia berbuka, apakah dia wajib melakukan sesuatu?” Jawab, “Bagi orang yang berpuasa sunat boleh berbuka di tengah-tengah puasanya, karena orang yang berpuasa sunat diberikan pilihan (antara berpuasa atau tidak) sebelum memulai puasa, sehingga setelah memulai puasa, ia pun tetap diberikan pilihan.” Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam Fatwa no. 2232 Pertanyaan, “Orang yang memiliki hutang puasa, namun ia malah mengerjakan puasa sunat sebelum mengqadha’ puasa wajibnya itu, lalu setelahnya barulah ia mengqadha’, apakah (qadha’nya) itu sah?” Jawab, “Orang yang berpuasa sunat sebelum mengqadha’ puasa wajibnya, baru setelah itu ia mengqadha’, maka qadha’nya sah. Tetapi seharusnya, dia mengqadha’ dahulu, baru setelah itu melakukan puasa sunat, karena yang wajib itu lebih penting.” Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam Fatwa no. 6497 Pertanyaan: “Bolehkah berpuasa sunat dengan dua niat; niat mengqadha’ (puasa wajib) dan niat mengerjakan puasa sunat, dan apa hukum berpuasa bagi musafir dan orang yang sakit, khususnya yang dianggap secara mutlak sebagai safar dikatakan safar, juga (bagaimana) jika si musafir sanggup berpuasa, dan juga jika si sakit sanggup berpuasa, apakah dalam kondisi ini puasanya diterima atau tidak?” Jawab, “Tidak boleh berpuasa sunat dengan dua niat; niat mengqadha’ dan niat puasa sunat. Yang utama bagi musafir yang melakukan safar yang membolehkan mengqashar adalah berbuka, tetapi kalaupun puasa, maka sah. Demikian juga lebih utama bagi orang yang terasa berat dan bisa menambah parah sakitnya untuk berbuka, demi menghindarkan kepayahan dan bahaya. Musafir serta orang yang sakit wajib mengqadha’ puasa Ramadhan yang ia berbuka itu di hari-hari yang lain, tetapi kalau pun ia memaksakan diri untuk puasa, maka puasanya sah.” Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Fatwa no. 12128 Pertanyaan: “Hari-hari apa saja yang lebih baik untuk berpuasa sunat, dan bulan apa saja yang paling utama untuk mengeluarkan zakat?” Jawab: “Hari yang paling utama untuk berpuasa sunat adalah hari Senin dan Kamis, Ayyamul Biedh yaitu tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan (Hijriah), sepuluh hari bulan Dzulhijjah, khususnya hari ‘Arafah, tanggal sepuluh bulan Muharram dengan berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya dan puasa enam hari di bulan Syawwal. Adapun untuk zakat, maka ia dikeluarkan bila sudah sempurna satu tahun ketika sudah sampai nishabnya di bulan apa saja.” Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Fatwa no. 13700 Pertanyaan: “Bolehkah berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) hanya sehari saja?” Jawab: “Boleh berpuasa ‘Asyura sehari saja, akan tetapi yang lebih utama adalah berpuasa juga sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, ini adalah Sunnah yang sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasarkan sabda Beliau: لَئِنْ بَقِيْتُ إِلىَ قَابِلٍ لَأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ “Sungguh, jika saya masih hidup tahun depan, niscaya saya akan berpuasa pada tanggal sembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, “Yakni dengan sepuluhnya.” Fatwa no. 2014 Pertanyaan: “Saya berpuasa tiga hari setiap bulan, di salah satu bulan saya sakit, sehingga tidak bisa berpuasa, apakah saya mesti qadha’ atau membayar kaffarat?” Jawab: “Puasa sunat tidak diqadha’ meskipun meninggalkannya atas keinginan sendiri, hanya saja bagi seseorang selayaknya menjaga amal shalih yang biasa dikerjakannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلىَ اللهِ مَاداَوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang senantiasa dikerjakan meskipun sedikit.” Oleh karena itu anda tidak mesti mengqadha’, juga tidak perlu membayar kaffarat, dan perlu diketahui bahwa amal shalih yang ditinggalkan seorang hamba karena sakit atau tidak sanggup ataupun karena sedang safar dsb, akan dicatat pahalanya, berdasarkan hadits, إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْماً صَحِيْحاً “Apabila seorang hamba sakit atau bersafar, maka akan dicatat untuknya pahala seperti yang biasa dikerjakannya ketika tidak safar dan sehat.” (HR. Bukhari dalam shahihnya) Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Fatwa no. 13589 Pertanyaan: “Saya seorang wanita yang ingin berpuasa tiga hari pada setiap bulan, akan tetapi saya tidak bisa berpuasa tanggal 13, 14 dan 15, karena saya wanita yang terkadang datang bulan dan nifas, bolehkah saya berpuasa hari apa saja tanpa harus tanggal 13, 14 dan 15? Dan apabila saya kerjakan di hari apa saja setiap bulan, apakah bisa dianggap puasa setahun atau tidak? -semoga Allah membalas anda-” Jawab: “Yang paling utama bagi yang hendak berpuasa tiga hari di setiap bulan adalah pada Ayyaamul biidh (tanggal 13, 14 dan 15), namun kalaupun pada hari yang lain, maka tidak apa-apa, kami berharap hal tersebut dianggap puasa setahun, karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh, juga karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Abu Hurairah dan Abud Dardaa’ untuk berpuasa tiga hari di setiap bulan, tidak menentukan harus Ayyaamul biidh, demikian juga karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma: صُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ “Berpuasalah tiga hari dalam setiap bulan, itu adalah puasa setahun.” Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Fatwa no.11507 Pertanyaan: “Ada orang yang memiliki kebiasaan tahunan, ia berpuasa tiga hari bulan Sya’ban yaitu pada Ayyaamul biidh, pada malam ke lima belas Sya’ban ia menyembelih seekor sembelihan sebagai sedekah, saya minta penjelasan tentang hukumnya agar lebih lengkap dalam menasehatinya atau lebih kuat?” Jawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang mendorong berpuasa tiga hari Ayyaamul biedh setiap bulan sebagai amal sunat, namun tidak menentukan bulan ini saja, bulan yang lain tidak, selain Ramadhan sebagaimana sudah kita ketahui. Oleh karena itu pengkhususan anda hanya berpuasa di bulan Sya’ban saja menyalahi keumuman Sunnah yang menunjukkan tidak khusus (bulan tertentu). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendorong ummatnya untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala dengan melakukan kurban sunat tanpa menentukan hari atau bulan, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman: Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (terj. Al An’aam: 162) Oleh karena itu, kebiasaan anda melakukan taqarrub dengan melakukan penyembelihan pada malam ke-15 adalah bid’ah, mengkhususkan sesuatu tanpa dalil, dan telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda, “Barang siapa yang mengerjakan amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak.”, dan bersabda, “Barang siapa yang mengadakan dalam urusan agama kami ini, yang tidak termasuk di dalamnya, maka hal itu tertolak.” Wa billahit taufiiq, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Marwan bin Musa Maraaji’: Subulus Salaam, Nailul Awthaar, Masaa’il muhimmah tata’allaq bishiyaamiss sitti min Syawwal (Al Muslim bin Al Muslim), Mausuu’ah fataawaal lajnatid daa’imah wal imaamain (by. Islam.spirit). sumber: arabic.web.id

pengertian islam

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM
Untuk mengetahui pendidikan lebih jelas, maka kita uraikan terlebih dahulu pendidikan definisi secara umum. Dalam Dictionary of Education dijelaskan bahwa pendidikan adalah:
a. Proses di mana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah lainnya dalam masyarakat di mana dia hidup.
b. Suatu proses sosial di mana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga seseorang dapat memperoleh dan mengalami perkembangan kemampuan individual dan sosial secara optimal.
Pengertian pendidikan menurut para ahli
a. Langeveled
Pendidikan adalah usaha, pengaruh dan perlindungan yang diberikan kepada anak tertuju pada pendewasaan anak supaya cakap di dalam melaksanakan tugas hidupnya.

b. J.J. Rousseau
Pendidikan adalah memberi kita pembekalan uang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi dibutuhkan pada waktu dewasa.

c. Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak agar mereka sehingga anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan adan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
d. Dwikara
Pendidikan adalah pemanusiaan manusia/mengangkat manusia ke taraf insani.
H. Haidar Putar Daulay
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani
Marimba
Pendidikan Islam adalah adalah bimbingan jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam, menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
Dari pengertian pendidikan maupun pendidikan Islam, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendidian Islam adalah usaha sadar untuk mengarahkan peserta didik menjadi pribadi muslim yang kamil dan berasaskan Islam. Pendidikan Islam merupakan hal yang terintegrasi dan tak dapat dipisahkan dari ajaran Islam sendiri. Konsep ilmu dalam Islam-sebagai salah satu unsur pendidikan-hendaknya mengacu kepada lingkungan dan kebutuhan masyarakat . Karena itu harus bersifat applicable. Hal ini dapat dilacak dari beragamnya pengetahuan yang diberikan Allah kepada para nabi dan umat mereka, misalnya, Nuh (as) mendapatkan pengetahuan tentang pembuatan bahtera (surat Hud, 11:37), Daud diberi pengetahuan tentang pembuatan baju besi (surat al-Anbiya’, 21:80), umat Nabi Shaleh memiliki keahlian memahat gunung untuk dijadikan tempat tinggal (surat al-Hijr, 15:82).

B. KOMPONEN DASAR PENDIDIKAN ISLAM
Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang meiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat diaktan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen tersebut.
Komponen-komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik minimal terdiri dari 4 komponen, yaitu 1) tujuan pendidikan, 2) peserta didik, 3) pendidik, 4) isi pendidikan dan 5) konteks yang mempengaruhi suasana pendidikan. Berikut akan diuraikan satu persatu komponen-komponen tersebut.
1. Tujuan Pendidikan
Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau pendidik maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem norma tingkah-laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan danpendidik dalam suatu masyarakat .
Adapun tujuan pendidikan Islam itu sendiri identik dengan tujuan Islam sendiri. Tujuan pendidikan Islam adalah memebentuk manusia yang berpribadi muslim kamil serta berdasarkan ajaran Islam. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah QS. Ali Imran ayat 102.
Mengenai tujuan pendidikan, menurut Klaus Mollenhaver yang memunculkan “Teori Interaksi” menyatakan bahwa “di dalam pendidikan itu selalu ada (dijumpai) mengenai masalah tujuan pendidikan”.

2. Peserta Didik
Sehubungan dengan persoalan anak didik disekolah Amstrong 1981 mengemukakan beberapa persoalan anak didik yang harus dipertimbangkan dalam pendidikan. Persoalan tersebut mencakup apakah latar belakang budaya masyarakat peserta didik ? bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik ? hambatan-hambatan apakah yang dirasakan oleh anak didik disekolah ? dan bagaimanakah penguasaan bahasa anak di sekolah ?
Berdasarkan persoalan tersebut perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan individual, perhatian khusus pada anak yang memiliki kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung jawab pada anak dididik.

3. Pendidik
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah pendidik. Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidikan sekolah saja.. Guru sebagai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal maupun informal sebagai pendidik dilingkungan masyarakat.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidik adalah 1) orang dewasa, 2) orang tua, 3) guru/pendidik, dan 4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan.
1. Orang Dewasa
Orang dewasa sebagai pendidik dilandasi oleh sifat umum kepribadian orang dewasa , yakni: (1) manusia yang memiliki pandangan hidup prinsip hidup yang pasti dan tetap, (2) manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita hidup tertentu, termasuk cita-cita untuk mendidik, (3) manusia yang cakap mengambil keputusan batin sendiri atau perbuatannya sendiri dan yang akan dipertanggungjawabkan sendiri, (4) manusia yang telah cakap menjadi anggota masyarakat secara konstruktif dan aktif penuh inisiatif, (5) manusia yang telah mencapai umur kronologs paling rendah 18 th, (6) manusia berbudi luhur dan berbadan sehat, (7) manusia yang berani dan cakap hidup berkeluarga, dan (8) manusia yang berkepribadian yang utuh dan bulat.
2. Orang Tua
Kedudukan orang tua sebgai pendidik, merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka.
3. Guru/Pendidik di Sekolah
Guru sebagai pendidik disekolah yang secara lagsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi didasrkan pada ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yangingin disampaikan maupun cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.
4. Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
Selain orang dewasa, orang uta dan guru, pemimpin masyarakat dan pemimpin keagamaan merupakan pendidik juga. Peran pemimpin masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin. Pemimpin keagaam sebagai pendidik, tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerokhanian manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
4. Isi Pendidikan
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada peserta didik isi/bahan yang biasanya disebut kurikulum dalam pendidikan formal. Isi pendidikan berkaitan dengan tujuan pendidikan, dan berkaitan dengan manusia ideal yang dicita-citakan.
Untuk mencapai manusia yang ideal yang berkembang keseluruhan sosial, susila dan individu sebagai hakikat manusia perlu diisi dengan bahan pendidikan. Macam-macam isi pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama., pendidikan moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial, pendidikan civic, pendidikan intelektual, pendidikan keterampilan dan peindidikan jasmani.
5. Konteks yang Memepengaruhi Suasana Pendidikan
Lingkungan
Lingkungan pendidikan meliputi segala segi kehidupan atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada sekolah saja. Lingkungan pendidikan dapat dikelompokkan berdasarkan lingkungan kebudayaan yang terdiri dari lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial politis, lingkungan sosial.
Sarana
Sarana atau media pendidikan berguna untuk membantu dalam proses pendidikan sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan.
Metode
Metode dimaksudkan sebagai jalan dalam sebuah transfer nilai pendidikan oleh pendidik kepada peserta didik. Oleh karena itu pemakaian metode dalam pendidikan Islam mutlak dibutuhkan.
Sistem/Kurikulum
Sistem pembelajaran yang baik akan semakin menambah peluang untuk berhasilnya sebuah pendidikan.
Keseluruhan komponen-komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

PENUTUP
Kesimpulan
Dari pengertian pendidikan maupun pendidikan Islam di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendidian Islam adalah usaha sadar untuk mengarahkan peserta didik menjadi pribadi muslim yang kamil dan berasaskan Islam. Komponen-komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik minimal terdiri dari 4 komponen, yaitu 1) tujuan pendidikan, 2) peserta didik, 3) pendidik, 4) isi pendidikan dan 5) konteks yang mempengaruhi suasana pendidikan, yakni lingkungan, sarana, metode dan sistem atau kurikulum pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
• Udin Syaefudin dan Abin Syamsudin Makmun. 2005. Perencanaan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
• Pidarta, Made. 2000. Landasan Kependidikan. Jakarta: aneka Cipta.
• Nur Uhbiyati., Ilmu Pendidikan Islam., CV. Pustaka Setia., Bandung, 1998

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
%d blogger menyukai ini: